Home

Senin, 24 Januari 2011

Kisah Si Belang, Si Botak Dan Si Buta

0 komentar

Abu Hurairah r.a. telah mendengar Nabi saw bersabda, “Ada tiga orang dari Bani Israil yaitu si Belang, si Botak dan si Buta ketika Allah akan menguji mereka, Allah mengutus Malaikat berupa manusia. Maka datanglah Malaikat itu kepada orang yang belang dan bertanya, “Apakah yang kau inginkan?” Jawabnya, “Kulit dan rupa yang bagus serta hilangnya penyakit yang menyebabkan orang-orang jijik kepadaku.” Maka diusaplah orang itu oleh Malaikat. Seketika itu juga hilanglah penyakitnya dan berganti rupa dan kulit yang bagus.

Kemudian ditanya lagi, “Kekayaan apakah yang engkau inginkan?” Jawabnya, ” Unta” Maka diberinya seekor unta yang bunting sambil didoakan, BAARAKALLAAHU LAKA FIIHAA (Semoga Allah memberkahimu pada kekayaanmu itu).” Kemudian datanglah si Malaikat itu kepada si Botak dan bertanya, “Apakah yang engkau inginkan?” Jawabnya, “Rambut yang bagus dan hilangnya penyakitku yang menyebabkan kehinaan pada pandangan orang.” Maka diusaplah orang botak itu lalu seketika itu juga tumbuhlah rambut yang bagus.

Kemudian ditanya lagi, “Kini kekayaan apa yang engkau inginkan?” Jawabnya, “Lembu” Maka diberinya seekor lembu yang bunting sambil didoakan, “BAARAKALLAAHU LAKA FIIHAA (Semoga Allah memberkahimu pada kekayaanmu itu).” Lalu datanglah Malaikat itu kepada si Buta dan bertanya, “Apakah yang engkau inginkan?” Jawabnya, “Kembalinya penglihatan mataku supaya aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah matanya sehingga dapat melihat kembali. Selanjutnya dia ditanya pula, “Kekayaan apa yang engkau inginkan?” Jawabnya, “Kambing.” Maka diberinya seekor kambing yang bunting sambil didoakan “BAARAKALLAAHU LAKA FIIHAA (Semoga Allah memberkahimu pada kekayaanmu itu).”

Beberapa tahun kemudian setelah masing-masing mempunyai daerah tersendiri yang penuh dengan unta, lembu dan kambing, datanglah Malaikat itu dalam rupa seorang yang miskin seperti keadaan si Belang dahulu pada waktu ia belum sembuh dan kaya.

Malaikat itu berkata, “Saya seorang miskin yang telah terputus hubungan dalam perjalananku ini maka tidak ada yang dapat mengembalikan aku kecuali dengan pertolongan Allah dan bantuanmu. Maka saya mengharap, demi Allah yang memberi rupa dan kulit yang bagus, satu unta saja untuk meneruskan perjalananku ini.” Jawab si Belang, “Masih banyak hak orang lain padaku, aku tidak dapat memberimu apa-apa, mintalah saja di lain tempat.”

Malaikat berkata, “Rasa-rasanya aku pernah berjumpa denganmu, bukankah engkau si Belang dahulu yang dijijiki orang dan seorang miskin kemudian Allah memberimu kekayaan?” Jawab si Belang, “Saya telah mewarisi kekayaan orang tuaku.” Malaikat berkata, “Jika engkau berdusta maka semoga Allah mengembalikan keadaanmu seperti dahulu”.

Kemudian pergilah malaikat itu kepada si Botak dengan menyamar seperti keadaan si Botak dahulu dan berkata pula padanya sebagaimana yang dikatakan kepada si Belang, namun ternyata mendapat jawaban seperti jawaban si Belang, hingga karenanya didoakan, “Jika engkau berdusta maka semoga engkau kembali seperti keadaanmu semula”.

Akhirnya datanglah Malaikat itu kepada si Buta dengan menyamar seperti keadaan si Buta dahulu semasa ia miskin dan berkata, “Saya seorang miskin dan perantau yang telah putus hubungan dalam perjalanan, tidak dapat meneruskan perjalanan kecuali dengan pertolongan Allah dan bantuanmu. Aku minta demi Allah yang mengembalikan pandangan matamu, satu kambing saja untuk meneruskan perjalananku ini.” Jawab si Buta, “Dahulu aku memang buta lalu Allah mengembalikan penglihatanku maka kini ambillah sesukamu, aku tidak akan memberatkan sesuatu pun kepadamu yang engkau ambil karena Allah.”

Maka berkata Malaikat, “Jagalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu telah diuji maka Allah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu itu.”
(Bukhari – Muslim) .

3 Rahasia Besar Yang Disampaikan Iblis

0 komentar

Dikisahkan dalam sebuah Hadits, dulu pada zaman Nabi Musa, Iblis pernah datang menemui Nabi Musa untuk meminta bantuan. Iblis menyampaikan bahwa sebenarnya dia takut masuk ke dalam Neraka dikarenakan dia mengerti betul bagaimana keadaan di dalam Neraka.

Namun, dikarenakan disaat Nabi Adam diciptakan, kemudian Allah menyuruh para malaikat sujud pada Nabi Adam (termasuk Iblis yang saat itu berada di kalangan malaikat), ternyata hanya Iblis yang tidak mau sujud dikarenakan ego-nya yang terlalu tinggi. Iblis tidak melihat ‘siapa’ yang memerintahnya. Malah Iblis mengatakan bahwa derajat dirinya itu lebih tinggi dari pada Nabi Adam karena Nabi Adam diciptakan dari tanah, sedangkan Iblis diciptakan dari api. Singkat cerita, Allah murka dan mengutuk Iblis dan anak turunnya untuk masuk ke dalam Neraka pada hari kiamat nanti. Namun Allah memberi umur yang panjang pada Iblis hingga hari kiamat nanti.

Nah, saat itu Iblis datang pada Nabi Musa. Tujuan Iblis datang pada Nabi Musa adalah untuk meminta bantuan. Iblis mengatakan bahwa ia ingin taubat, tapi tidak tahu caranya. Maka Iblis meminta Nabi Musa untuk berdo’a pada Allah agar Allah memberitahukan bagaimana cara taubat yang harus dilakukan oleh Iblis karena kesalahannya yang dahulu itu.

Akhirnya Nabi Musa mendapatkan kabar dari Allah. Lalu Iblis datang lagi dan menemui Nabi Musa. Iblis bertanya tentang cara taubat yang bagaimana yang disampaikan oleh Allah melalui Nabi Musa. Dan Nabi Musa menjelaskan bahwa cara taubatnya sangat mudah dan sederhana yaitu “Jika Engkau (Iblis) memang ingin bertaubat, Allah perintah padamu supaya Engkau sujud di kuburannya Nabi Adam”.

Mendengar penjelasan itu, Iblis marah dan menolak sambil berkata “Dulu ketika Nabi Adam masih hidup, Aku tidak mau sujud! Apalagi sekarang Adam telah jadi tanah! Tidak, aku tidak mau sujud di kuburannya Nabi Adam!” (Inilah yang terjadi sebab Allah telah mengqodar bahwa Iblis dan anak turunnya tetap akan menjadi penghuni Neraka).

Lalu, sebelum meninggalkan Nabi Musa, Iblis berkata “Hai Musa, karena kamu telah baik dan mencoba menolongku, maka sebagai balasannya, aku akan menyampaikan 3 rahasia kepadamu Musa”.

RAHASIA PERTAMA

“Tahukah Kamu Musa, kenapa manusia bisa marah-marah hingga sangat marah sekali? Penyebabnya adalah AKU yang sedang berada di hatinya. Aku bisa masuk ke dalam pembuluh darah manusia”.

Penjelasan : Berarti orang yang marah itu sedang dikendalikan oleh Iblis / Setan bahkan orang-orang sering mengistilahkan dengan kata-kata ‘Kesetanan’. Dan inilah mengapa di dalam sebuah Hadits Nabi mengatakan “Jangan marah.. (3x)”. Selain itu, Nabi juga mengajarkan untuk orang yang sedang marah supaya membaca ta’awudz. Jika marahnya dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika marahnya dalam keadaan duduk, maka tidurlah. Ada juga yang menjelaskan, jika marah, maka wudhulah, dan jika masih marah, maka mandilah. Dan Nabi menambahkan lagi dalam suatu Hadits tentang keutamaan orang yang bisa menahan marah, yaitu :

* Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan marahnya

* Orang yang bisa menahan marahnya padahal dia juga bisa meneruskan marahnya itu (tapi ditahan) maka di hari kiamat nanti dia akan disuruh memilih bidadari yang ia senangi.

Kesimpulan => MENAHAN MARAH = MELAWAN PENGARUH IBLIS/SETAN = PAHALA = SURGA

Ada yang masih ingin marah hari ini? :)

RAHASIA KEDUA

“Tahukah kamu Musa mengapa ketika orang-orang Iman berperang, lalu diantara orang Iman itu ada yang lari meninggalkan perang? Itu karena Aku (Iblis) yang mengingatkan mereka akan harta, istri dan anak-anaknya yang mereka tinggalkan di rumah”

Penjelasan : Salah satu dosa yang paling besar adalah meninggalkan perang. Kalau sekarang, meninggalkan tugas yang diamanatkan pada dirinya (dapukan) itu juga sama dengan meninggalkan jihadnya. Kalau meninggalkan tugasnya begitu saja tanpa alasan yang jelas, berarti dia-lah orang yang terpengaruh Iblis.

Hayo.. ada yang ingin kabur dari tugasnya?

RAHASIA KETIGA

“Tahukah kamu Musa, bahwa ketika ada dua orang laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya berkumpul, maka AKU-lah orang ketiga yang berada di antara mereka dan Aku akan menggoda mereka sampai mereka melakukan zina”

Penjelasan : Sesuai dengan larangan dari Allah “Janganlah kamu mendekati zina…”. Insya Allah hal ini telah jelas.

Ups.. apa ada yang masih ingin berdua-an dengan orang yang bukan mahromnya?

Nah, itulah 3 Rahasia yang disampaikan oleh Iblis yang ada tujuan positifnya buat kita, yaitu supaya kita ‘mengenal’ Iblis dan anak turunnya yang selalu berada di sekitar kita untuk menggoda kita. SELAMAT!!! Kamu telah mengenal Iblis lewat 3 Rahasia ini. :)

Oleh karena itu, mari kita kendalikan diri & hawa nafsu, dan mari kita lawan pengaruh iblis, setan, dan anak turunya sampai kita bertemu ajal kita!

Are you ready?

Inilah 7 Pintu Neraka

0 komentar

Allah berfirman dalam Alqur’an ” Neraka mempunyai 7 pintu,untuk masing2 pintu di huni(sekelompok pendosa yang ditentukan)”,(QS.al hijr ayat 44). Diriwayatkan bahwa ketika jibril turun membawa ayat di atas, Nabi Muhammad memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Nabi bertanya: “Wahai jibril, jelaskanlah kepadaku tentang neraka?”. Jibril menjawab: “Wahai Nabi, sesungguhnya di dalam neraka itu ada 7 pintu, jarak antara masing-masing pintu sejauh 70 tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain”.

Nabi bertanya lagi : “Untuk siapa saja masing-masing pintu neraka itu?” Jibril menerangkan:

1. Pintu neraka Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), pintu ini untuk kaum munafik dan kafir.

2. Pintu neraka Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah.

3. Pintu ini untuk kaum sabian/penyembah api.

4. Pintu neraka Lazza, pintu ini untuk syetan dan para pengikutnya serta para penyembah api.

5. Pintu neraka Huthomah, pintu ini untuk kaum yahudi.

6. Pintu neraka Sa’ir (arti harfiahnya api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ke 7, Jibril terdiam.

Nabi Muhammad meminta ia untuk menjelaskan pintu yang ke 7. Rasulullah bertanya: “Lalu pintu yang ke 7 untuk siapa wahai Jibril?”

Jibril menjawab: “Pintu ini untuk umatmu yang angkuh dan mereka yang mati tanpa menyesali dosa-dosa mereka.” Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya dan begitu sedih sampai beliau pingsan. Ketika siuman, beliau berkata: “Wahai Jibril, sesungguhnya engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat, akankah umatku masuk neraka?”

Kemudian Nabi mulai menangis. Sejak kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari. Dan ketika Shalat beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis. Kemudian mereka bertanya, namun beliau tidak menjawab.

Saat itu, imam Ali bin Abi Tholib sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para sahabat pergi menghadap Fatimah. Saat itu Fatimah tengah mengasah gerinda sambil membaca ayat yang artinya: “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal(QS.al a’la ayat 17)“. Para sahabat pun menceritakan kondisi ayahnya(Rasulullah) kepada Fatimah. Setelah mendengar semua itu, Fatimah bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang memiliki 12 tambalan yang dijahit dengan daun pohon kurma.

Salman Al Farisy yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Fatimah, lalu berkata: “Aduhai, sementara putri2 Kaisar dan Kisra (penguasa persia kuno) duduk di atas singgasana emas. Sedangkan putri Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai. Ketika Fatimah sampai di hadapan sang ayah, ia melihat keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para sahabatnya. Kemudian ia berkata: “Wahai ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh robekan, aku bersumpah demi Allah yang telah memilihmu menjadi Nabi, sejak 5 tahun kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah kami, pada waktu siang, kami memberi makan unta-unta dan pada waktu malam kami beristirahat. Anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma”.

Nabi berpaling ke arah Salman dan berkata: “Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?” Sayyidah Fatimah melihat karena tangisan yang tidak terhenti, wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung, sebagaimana yang diceritakan oleh Kasyfi bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah dengan airmata.

Fatimah berkata kepada ayahnya: “Semoga hidupku menjadi tebusanmu, mengapa ayahanda menangis?” Rasulullah menjawab: “Ya Fatimah, mengapa aku tidak boleh menangis? Karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai 7 pintu,dan pintu2 itu mempunyai 70.000 celah api. Pada setiap celah ada 70.000 peti mati dari api, dan setiap peti berisi 70.000 jenis azab/siksa”.

Setelah itu Fatimah pingsan. Ketika siuman ia berkata: “Wahai yang terbaik dari segala makhluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu?” Rasulullah menjawab: “Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara shalat. Dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainnya. Setelah mendengar ucapan itu para sahabat menangis dan meratap. Rasulullah memberitahukan kepada mereka agar menjadi umat yang menjaga shalat serta tidak menjadi umat yang angkuh.

Semoga bermanfaat.

Hitungan Waktu Di Surga dan Neraka

0 komentar

Saat kita mengikuti pengajian rutin, baik itu mendengar nasehat, mengaji Alqur’an, dan mengaji Hadits, kita selalu menjumpai penjelasan yang berhubungan dengan Surga dan Neraka. Surga adalah tempatnya segala kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya. Demikian sebaliknya, neraka adalah tempatkan segara siksaan dan segala penderitaan yang kekal abadi selama-lamanya.

Kalau dikaji tentang surga, tentu kita terbayang akan kenikmatannya yang luar biasa. Yaitu kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah diangan-angankan oleh hati manusia. Bahkan ada dalil yang menyatakan bahwa setapak di surga itu lebih baik dibandingkan dengan dunia seisinya. Wah, tentu kenikmatan di surga itu sangat jauh sekali dari kenikmatan apa pun yang bisa kita bayangkan. Allohumma Innii As’alukal Jannata wama qorroba ilaiha min qoulin au ‘amalin..

Kalau dikaji tentang neraka, tentu kita sangat takut dan ngeri sekali dengan berbagai macam siksaan yang telah diceritakan oleh Nabi dalam haditsnya. Dan neraka itu adalah dunia api, dari depan, belakang, samping kiri, samping kanan, atas, dan bahwa semuanya ditutupi oleh api. Belum lagi malaikat-malaikat yang kejam-kejam yang menyiksa penghuni neraka tanpa ampun!

Mulai dari Neraka paling rendah yang sudah dijatahkan untuk Pamannya Nabi, hingga neraka yang paling mengerikan sekali. Sampai-sampai di suatu Hadits Nabi menceritakan bahwa di dalam Neraka Jahannam itu ada sebuah jurang. Karena saking mengerikannya siksaan di dalam jurang tersebut, sampai-sampai neraka sendiri minta perlindungan dari Allah dari jurang tersebut. Na’udzubillahi Minan-Naar..

Nah, ada satu hal lagi yang perlu kita kaji bersama mengenai dua tempat yang disediakan Allah di Akhirat sana, yaitu Surga dan Neraka, yaitu mengenai lamanya waktu untuk bertempat di surga atau di neraka. Baik di Alqur’an maupun Hadits, tidak ada satu pun dalil menerangkan bahwa penghuni surga atau penghuni neraka hanya akan bertempat sementara di tempatnya masing-masin (surga atau seraka) setelah ‘kematian’ ditiadakan. Semua dalil dan ayat tentang surga dan neraka menjelaskan bahwa di surga atau di seraka adalah kekal abadi selama-lamanya ==>> Kholidina Fiiha Abada..

Pertanyaannya adalah.. Berapa lamakah hitungan waktu “Kholidina Fiihaa Abadaa” itu?

Mungkin kalau kita membayangkan hasilnya, akan sangatlah rumit. Namun, para penasehat terdahulu, sesepuh-sesepuh kita pernah memberikan sebuah gambaran seperti ini…

Kalau seumpama, tempat dimana anda duduk sekarang ini, dijadikan sebagai ANGKA SATU (1), kemudian dari sebelah kanan anda ke arah barat di tulis ANGKA NOL (0) sejajar dengan ANGKA SATU tadi hingga mentok sampai ke arah barat bumi, dan tembus berputar hingga ke arah timur dan diteruskan hingga ke ANGKA SATU tadi (di tempat anda berada). Nah, kira-kira ada berapa banyakkah ANGKA NOL-nya?

Ditambah lagi, kembali ANGKA NOL ditulis lagi dari arah utara sampai mentok hingga memutari bumi sampai tembus ke arah selatan dan diteruskan lagi hingga kembali ke ANGKA SATU (di tempat anda berada), berapa banyakkah ANGKA NOL-nya?

Ditambah lagi, se isi bumi ini di tulis ANGKA NOL semua hingga penuh! Berapa banyakkah keseluruhan ANGKA NOL-nya?

Jika satuan dari ANGKA SATU dan ANGKA NOL tadi adalah ‘TAHUN’ berarti…

Kalau NOL-nya tiga = 1000 (Seribu) Tahun

Kalau NOL-nya enam = 1.000.000 (Satu Juta) Tahun

Kalau NOL-nya sembilan = 1.000.000.000 (Satu Milyar) Tahun

Kalau NOL-nya dua belas = 1.000.000.000.000 (Seribu Milyar) Tahun

Jadi, Kalau ANGKA NOL-nya sepenuh bumi, berapakah hitungannya??????? Berapa tahun-kah hasilnya???

Seumpama bisa dihitung, itu pun BELUM MENYAMAI HITUNGAN KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA ‘KHOLIDIINA FIIHA ABADAA’

Kesimpulannya : TIDAK TERBATAS WAKTUNYA!

Maka, beruntunglah orang-orang Iman yang menjadi penghuni surga. Dan sangat-sangatlah CELAKA orang yang menjadi PENGHUNI NERAKA!

Coba kita renungkan sejenak, seumpama di nerjaka itu ada batas waktunya, maka sudah tentu orang-orang yang sekarang merasakan siksa kubur itu masih bisa tertawa karena masih ada harapan bahwa siksaan mereka akan selesai. Namun, kenyataanya tidak demikian…

Bukankah pantas kita mengorbankan umur kita yang hanya 60-70 tahun (sesuai sabda Nabi) untuk mendapatkan kenikmatan Surga yang KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA??

Bukankah sangat RUGI, orang yang menikmati kenikmatan Dunia yang TERBATAS dalam waktu 60-70 tahun dan akhirnya dimasukkan ke dalam NERAKA dan disiksa KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA?

Renungkanlah wahai Saudaraku… renungkanlah…

Semoga Alloh menetapkan kita dalam keimanan sampai ajal kita masing-masing… Amin…

4 Cara Efektif Agar Tidak Mudah Tersinggung

0 komentar

Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain.

Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya waktu kita menjadi buah roh.

Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.

Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa sukses.

Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.

Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung.

Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan

Pertama, belajar melupakan.

Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemukaagamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.

Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.

Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.

Ketiga, kita harus berempati.

Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut.

Yang di depan berkata, “Oh indah nian pemandangan sepanjang hari”. Kontan ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah.!

Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah-buah roh Yaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.

Semoga bermanfaat.

Siapakah Yang Dijamin Masuk Surga?

0 komentar
Seperti yang kita ketahui bersama, orang-orang yang dijamin Allah untuk masuk ke dalam surga adalah orang-orang yang tho’at pada peraturan Allah dan Rasul-Nya yang tertuang dalam surat An-Nisa’ ayat 13. Diperkuat lagi oleh sabda Nabi bahwa puncak penentu seseorang itu BERHASIL atau TIDAK dalam rangka Tho’at pada Allah dan Rasul dinilai dari keadaan atau amalan terakhir orang tersebut di penghujung hayatnya. Itulah orang-orang yang mendapat Jaminan berhasil masuk surga dan selamat dari Neraka.

Nah, kita yang masih hidup ini, tidak ada satu hal pun yang menjamin kita untuk berhasil masuk surga selamat dari neraka. Karena apa? Karena kita masih hidup! Dan tidak akan ada yang menjamin bahwa masing-masing kita akan mati dalam keadaan Husnul Khotimah.

Sesuai dengan suatu hadits menerangkan bahwa, ada 4 model manusia yang diciptakan Allah di dunia.

Yang pertama : “Sebagian mereka (manusia) dilahirkan dalam keadaan Iman, hidup dalam keimanan, dan mati juga dalam keimanan”

Yang kedua : “Sebagian mereka (manusia) dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup dalam kekafiran, dan mati dalam keimanan”

Yang ketiga : “Sebagian mereka (manusia) dilahirkan dalam keadaan Iman, hidup dalam keimanan, dan mati dalam kekafiran”

Yang keempat “Sebagian mereka (manusia) dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup dalam kekafiran, dan mati juga dalam kekafiran”

Sayangnya, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa diri kita tergolong dalam model manusia yang mana.

Artinya, jangan mentang-mentang sudah ada dalam jama’ah, lalu kita berbangga hati. Justru malah harus sebaliknya, kita harus hati-hati menjaga hidayah yang sudah ada dalam diri kita. Karena, GOAL kita adalah sampai mati! Jika kita sembarangan menjaga hidayah ini, maka Allah bisa saja mencabut hidayah ini dari diri kita.

Coba bayangkan model manusia yang ketiga yang disebutkan di atas. Ada orang yang lahir dalam keadaan Iman (karena orang tuanya Iman), hidupnya dalam keimanan, dan mati dalam keadaan KAFIR… Nau’dzubillahi min dzalik

Wahai saudaraku semuanya, ini artinya adalah… yang bisa menetapkan hidayah ini dalam diri kita sampai mati hanya Allah. Berarti kita harus benar-benar minta pertolongan Allah. Tidak ada cara lain.

Kita yang masih hidup ini,masih dalam status “CALON”, tidak ada JAMINAN BERHASIL. Kita semua masih dalam proses penyaringan.

Diibaratkan seperti padi. Padi yang dikatakan berhasil sukses itu adalah padi yang menjadi nasi dan berhasil masuk ke dalam mulut kita. Jika kita urut proses padi itu adalah…

Ketika musim panen, maka padi dipanen dan ada yang tercecer tidak masuk ke karung. Di bawa ke penggilingan padi, juga ada padi yang tercecer. Dimasukkan kembali ke dalam karung, juga ada yang tercecer. Dibawa ke rumah, lalu dicuci untuk dimasak, juga ada yang tercecer. Setelah dimasak, ada yang nempel-nempel di priuk, dan akhirnya tidak berhasil sampai mulut. Bahkan ada yang sudah dipiring, juga tidak ikut masuk ke dalam mulut. Masya Alloh….Subhanalloh…

Sekarang coba lihat diri kita… kita ini masih dalam proses penyaringan. Alloh akan benar-benar melakukan proses itu sampai Alloh benar-benar yakin dengan orang-orang yang benar2 beriman, dan mana yang ragu-ragu. Mari kita sadarkan diri kita mulai dari sekarang. Ingatlah, keadaan disekitar kita semuanya ini adalah proses penyaringan terhadap keimanan kita. Contohnya :

* Remaja-remaja disaring melalui pergaulan antara laki-laki dan perempuan
* Adanya kecanggihan teknologi dan dampak negatifnya, itu juga merupakan saringan
* Masalah ekonomi dan keuangan, itu juga saringan terhadap orang2 Iman.
* Upadaya jelek dari orang-orang yang tidak beriman, itu juga saringan untuk orang-orang iman.
* Masalah kerukunan, kekompakan, dan silaturrahim, juga saringan untuk orang-orang iman.
* Dan banyak lagi.. dan banyak lagi….

Jangan sampai kita gagal dalam penyaringan ini hanya karena masalah-masalah sepele seperti :

* Masalah pelanggaran laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom
* Masalah kerukunan antara keluarga dan / atau Jama’ah
* Masalah keuangan
* Masalah pekerjaan
* Dan lain sebagainya.

Itu semua hanya masalah dunia. Dunia itu kecil, dan menipu. Oleh karena itu, janganlah sampai kita tertipu dengan kehidupan dunia. Ingatlah bahwa mati itu datangnya sewaktu-waktu. Dunia ini akan kita tinggalkan, PASTI!

Intinya, seperti gambaran padi tadi, GOAL kita adalah mati dalam keadaan disaksikan baik, amalannya baik, ibadahnya tertib, berarti mati dalam keadaan Husnul Khotimah.

Tidak ada yang bisa menolong kita kecuali Allah semata. Berhati-hatilah membawa hidayah.. berhati-hatilah…

Semoga kita semua mati dalam keadaan husnul khotimah… Amin…

Dimanakah Letak Kebahagiaan?

0 komentar

Tidak bisa dipungkiri setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan adalah dengan memiliki mobil mewah,kapal pesiar, Handphone sekelas Blackberry, memiliki rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, punya istri cantik dan lain sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia. Namun apakah betul seperti itu?

Wahai teman…

Orang yang beriman dan beramal sholeh, mereka-lah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang paling berbahagia. Perhatikan seksama firman-firman Allah Ta’ala berikut

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97).

Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan kehidupan yang baik.

وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97). Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh.

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3). Kedua ayat ini menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan yang kokoh. Kenikmatan seperti ini tidaklah pernah dirasakan oleh para raja dan juga pangeran.

لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ

“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”

Wahai teman…

“Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.”

Bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.

Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat. Itulah surga yang seharusnya engkau raih, dengan meraih kecintaan Allah, senantiasa berharap pada-Nya, serta dibarengi dengan rasa takut, juga selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya.

Inti dari ini semua adalah letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati, yaitu hati yang memiliki keimanan, yang selalu merasa cukup dan selalu bersandar pada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya. Hati yang selalu merasa cukup itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah.